Fajar kala itu, menelantarkanku ke balutan emosi yang cukup
dalam. Aku terdiam, tersudut tanpa kata, angan-angan melalang jauh. Kupandangi
pintu rumah dengan tatapan kosong. Aku tersadar bahwa ini bukan mimpi di siang
bolong, terlalu pahit luka yang kukecap, seakan membuatku enggan tuk berlari
menuju pintu kenyataan. Naluri ingin berlari namun hati tak berkehendak. Jam
dinding menunjukkan eksistensinya, berdetak tanpa henti meskipun duniaku malas
untuk mengajaknya beranjak. Semua rasaku bercampur aduk, bak mengejar
fatamorgana yang mustahil untuk direngkuh.
Dalam kegelapan, aku berlari mengejar bayangan yang tak
nampak. Aku tersungkur dan terlihat sesosok manusia tanpa dosa menyodorkan
tangannya padaku, seperti ingin mengajakku bermain, mengusir penatku, menarik
ulur tanganku, canda tawa itu yang disogokkan padaku. Namun setelah kudekati,
bayangan itu semakin menjauh dan pergi tanpa menoleh ke arahku. Aku menjerit
ketakutan, sendiri di dalam gelap dan dengan lugunya tetap kucari-cari sosok
itu. Sistem otak memancingku tuk berhenti memikirkannya, tapi naluriku berkata
lain.
“Ajeng, bangun. Sudah siang !”.
“Hmmm. Iya, buk. Bentar lagi”.
“Hmmm. Iya, buk. Bentar lagi”.
Percakapan ini yang setiap pagi mengawali hariku. Jam weker
dikamarku memang sudah usang, jadi wajar kalau setiap pagi ada semacam ritual
untuk membangunkanku. Meskipun jam itu masih baru dan terpajang manis
dikamarku, sedikitpun aku tak pernah menghiraukannya. Suaranya yang terkesan
berisik dan mengganggu yang membuatku tak peduli akan kehadirannya. Segera ku
beranjak dari tempat tidurku. Jikalau kelamaan sedikit saja, omelan ibu-ibu
paruh baya dengan memegang sapu di tangan kanannya akan mendarat diwajahku,
seakan perabot itu menjadi senjata ampuh untuk memukulku yang banyak ulah.
Beginilah hidupku, simpel tapi berada. Berada yang dimaksud disini bukanlah
kondisi dimana hidupku bergelimang harta. Memang banyak orang yang menetapkan
argumennya bahwa hidup bahagia adalah hidup dengan harta yang melimpah, tapi
bukan itu yang kucari. Sesosok yang sekejap muncul dan menghilang secara bersamaan
dalam mimpiku semalam, itulah yang menjadi tujuan hidupku saat ini :
menemukannya dan menanyakan hal-hal yang mungkin tak penting lagi baginya, tapi
aku berhak untuk menanyakannya terlepas dia mau menjawabnya atau tidak.
Hari ini adalah hari yang cerah. Langit yang memancarkan
cahayanya, biru merona memandangiku. Angin sejuk berhembus dan kuhirup
dalam-dalam, tak ingin kukeluarkan. Senyumku mengembang menikmati pagi ini.
Melihat suasana sekitar rumah dengan burung gereja yang terbang kesana-kemari,
berkicau dan bertengger sebentar, lalu pergi.
Pekan liburan adalah hari yang menyenangkan bagi setiap
orang, tapi tidak bagiku. Liburan memang hal yang paling dinantikan, tapi
apabila sudah berada pada titik jenuh, maka hal tersebut akan membosankan. Aku
terbayang teman-teman sebayaku, sedang apa mereka ? Apa yang mereka rencanakan
untuk hari liburnya? Pasti banyak serangkaian opsi yang bisa mereka ambil
sedangkan disisi lain hal itu malah menyulitkanku. Senang rasanya melihat
mereka pergi dengan arah tujuan yang pasti, sementara aku harus menerka-nerka
terlebih dahulu apa yang harus kulakukan sekarang, esok dan kelak. Sesekali aku
iri pada mereka, pada apa yang mereka punyai. Tawa canda yang mewarnai cerita
mereka disertai kilatan mata yang berbinar-binar.
Dalam sekejap aku kembali melakukan rutinitasku dengan
melamunkan sesuatu yang tidak ada wujudnya, abstrak seperti lukisan yang
terpajang di dinding namun memiliki makna yang dalam dan hanya pelukisnya yang
tahu makna tersebut. Sebuah lukisan abstrak bukan hanya digunakan sebagai
penghias ruangan, tapi keindahannya yang tersebunyi dapat dinikmati. Diam penuh
makna, seakan lukisan tersebut ingin hidup diantara ruang hampa, yang ingin
dilirik oleh penikmatnya.
Lamunan ini yang setiap pagi bahkan setiap waktu
menghantuiku. Aku bertanya pada diriku sendiri, berdialog dengan pikiran yang
simpang-siur entah kemana. Aku harus mampu melewati dinding pembatas
rasionalitasku untuk mencari sejumput kebenaran yang sebagian dikaburkan oleh
alam sadarku. Aku mulai meragukan sesuatu, dan karena keraguan itu, otakku
menjadi terpompa, memaksaku untuk berpikir seperti apa yang ingin kulakukan
saat ini, apa yang ingin kucari mencoba kutelaah dan segera ingin ku
memulainya. Ungkapan terkenal dari Descartes ini “Cogito, ergo sum”, yang
artinya karena saya berfikir, maka saya ada, sekaligus membuatku semakin
berpikir bahwa semua peristiwa dapat dijelaskan dari sebab-akibatnya, dan
inilah yang sedang kucari saat ini.
Cukup dengan tindakan tanpa basa-basi, tak lagi merenungkan
sesuatu hal yang menguras tenaga dan pikiranku. Kulangkahkan kakiku dan aku
sadar mengapa aku mengambil keputusan ini. Mungkin ini satu-satunya jalan agar
hidupku tak luntang-lantung, mencari kepastian yang aku sendiri masih ragu.
Sesaat ku berjalan mendekati ibu yang tengah disibukkan dengan cucian kering
berantakan, karena aku sedari tadi masih terus melamun di luar dan tidak
mengindahkan perintah ibuku untuk membereskannya. Bukan karena aku tidak patuh
dengan perintahnya, tapi pikiranku kacau dan telingaku tidak mampu mendengar
namaku yang sedang disebut.
Aku duduk disampingnya, kulihat peluh diwajahnya. Emosiku
hampir meledak, tak kuat ingin meneteskan airmata. Aku mencoba mengendalikan
diriku sendiri dan berbicara dari hati ke hati, berbisik lembut memegang
tangannya.
“Buk, aku pamit. Doakan aku ya ……
Aku berjanji akan pulang dengan membawa kepastian itu”.
“Buat apa, nggak usah lah. Yang ibu butuhkan cuma kamu.
“Ibu ikhlas, mungkin ini sudah takdir kita”,Sembari
menitikkan airmata dan tak hentinya memegangiku.
“Nggak Buk, Kita ngga bisa diem terus kayak gini, izinkan
aku mencari kebenaran itu.
Aku mohon ”……
Aku mohon ”……
Sekuat tenaga aku meyakinkan Ibu, dan mungkin keputusan ini
tidaklah mudah. Aku tahu dari mimik wajahnya, ia sedang bimbang dengan
dihadapkan pada dua pilihan, melepas anaknya untuk mencari kebenaran semu itu
atau dengan tegas menghentikan langkahku yang menggebu-gebu. Kutatap kembali
matanya yang sayu dan terlihat lipatan dibawah matanya yang menandakan betapa
berat beban yang dirasakannya.
“Setelah urusanku selesai aku pasti langsung pulang. Aku
janji”.
Kuulangi kembali kata-kata yang sempat kulontarkan tadi,
berharap keputusanku ini mendapat izin darinya.
“ Hati-hati, ya…. “Ibu menunggumu disini”.
Segera ia memelukku erat-erat, luapan tangisannya berceceran
dipundakku. Aku menepuk bahunya, mencoba menenangkannya dan mengusap-usap
rambutnya yang sebagian telah beruban. Aku merasa energi positif telah masuk
kedalam tubuhku. Doa dan ridho dari Ibu menjadi bekal perjalananku dalam
mencari kebenaran dari sosok itu. Kubulatkan tekad dan bersiap untuk berbenah
melangkah keluar pembatas pagar rumahku. Ibu menyodorkan sebuah amplop cokelat
yang tak kuperhatikan apa isinya. Mungkin itu akan menjadi petunjuk dan
membantuku menemui sosok itu nantinya. Sekali lagi aku pamit dan mencium tangan
Ibuku yang terasa berat melihat kepergianku. Aku sendiri ragu ingin
meninggalkan pembatas itu, tapi dorongan dari naluri ini membuatku kuat dan
benar-benar memutuskan untuk pergi. Ibu tak beranjak dari depan pintu rumah dan
terus memandangi langkahku hingga aku tak mampu terlihat lagi.
Berawal dari langkah ini, kucari semua petunjuk yang
menuntunku menemukan sosok itu. Sendiri tanpa teman, tanpa siapapun
disampingku. Perjalanan yang cukup jauh bagi murid lulusan SMA seusiaku,
terbesit pikiran negatif melekat dikepalaku. Aku hanya bisa berdoa, semoga
diberikan jalan termudahnya. Amplop yang diselipkan padaku berisikan uang dan
secarik kertas. Dalam kertas itu, tercantum nama dan nomor telepon yang asing
bagi telingaku. Ini menjadi sebuah modalku di kota besar ini. Sekali salah
langkah saja, bisa fatal akibatnya. Sedikit mengernyitkan dagu dan berlagak sok
acuh mungkin akan membantuku ketika berpapasan dengan orang-orang kota ini.
Apalagi aku hanya seorang diri berjalan menyusuri tempat yang jauh dari
peradabanku. Gadis belia sepertiku cukup beresiko tapi aku berharap semua akan
baik-baik saja.
Dengan berbekal nomor telepon, kujelajahi satu per satu
nomor tesebut menggunakan jasa Wartel. Kutekan, kutekan lagi, dan kebanyakan
nomor yang tertera pada kertas itu adalah nomor yang sudah tidak dipakai dan
tidak jarang pula panggilanku ditolak karena salah sambung. Mataku mulai lelah,
dan inilah satu-satunya pengharapanku. Sebuah kolaborasi angka nan apik berada
paling bawah kertas yang sedari tadi kupegangi hingga tak berbentuk. Berbeda
dari nomor yang kutekan sebelumnya, sekilas terlihat sinar memancar dari nomor
itu dan semoga saja itu bukan hanya firasatku, imajinasiku mulai bermain gila
lantaran frustasi. Dalam ruang bersekat itu, aku mencoba tenang, menghirup
nafas panjang, berharap panggilan yang terakhir ini bukan salah sambung lagi.
Kuangkat gagang telpon, dan suara
“Tuutt…tuutt…tuutt……. “
selalu menjadi momen awal yang mendebarkan. Gendang
telingaku sudah tak sabar ingin mendengar suara dari si pemilik nomor ini.
Hingga pada bunyi Tuutt….. terakhir aku mulai bosan dan………
“Haloo ?? halo?”
Kudengar suara parau seorang lelaki menjawabnya. Aku
tertegun dan bingung harus ngomong apa. Kupejamkan mata sejenak dan kupancing
mulutku untuk mengeluarkan sebuah obrolan.
“I…iya… Assalamualaikum Pak…..!
“Wa’alaikumsalam”.
“Apa benar ini dengan Bapak Robi?”
“Iya benar. Ini siapa ya?” “ Saya Ajeng, anak dari Ibu
Sulastri di Pacitan”.
“Ohh,, ia…Yang dulu tinggal di Pasuruan kan? Gimana kabarnya
Ibumu?”.
“Alhamdulillah baik,,, Pak.
Sebenarnya saya menelpon bapak karena ada keperluan dengan
Bapak”. “…………………………………………………”
“…………………………………………………”
“…………………………………………………”
Hari mulai larut, segera kututup telepon setelah mendapat
jawaban pasti dari Bapak Robi. Sedikit jalan terbuka untukku, dan secercah
harapan timbul lagi. Tapi ini baru awal dan untuk langkah selanjutnya masih
harus kutebak akan seperti apa hasilnya. Untuk saat ini yang kubutuhkan adalah
mencari jalan dan alamat rumah Bapak Robi. Perutku mulai berteriak-teriak
kelaparan meminta sesuap nasi. Uangpun tersisa tinggal sedikit didalam saku
celanaku. Kurogoh kepingan logam untuk membayar tagihan panggilan Wartel dan
habis sudah uangku, yang tertinggal hanyalah amplop cokelat kumal berharga.
Aku mulai berjalan menapaki aspal yang berlubang dan
berkerikil, ibarat pencarianku yang tak mulus ini. Hanya satu jawaban yang
kucari dan itu masih jauh dari titik dimana aku berada saat ini. Akhirnya
tibalah kakiku pada rumah berwarna kuning, instruksi yang kuterima dari Bapak
Robi sebagai penanda rumah yang ia tinggali bersama keluarganya.
Sesampainya di rumah Bapak Robi, aku menjelaskan kedatanganku kesana. Perihal apa yang ingin kutanyakan padanya. Selangkah demi selangkah pencarianku semakin jelas, bayang-bayang kabur perlahan menjadi titik terang. Tali simpul yang mulanya terikat kuat, kini semakin terbuka. Bapak Robi menjawab setiap pertanyaan yang kusodorkan padanya, membuat rasa penasaranku semakin menggeliat ke dalam nurani terdalam. Mencari tahu setiap celah yang dia tahu. Aku bergumam sendiri, atas dasar apa orang itu berlaku seperti ini padaku, pada Ibuku. Penjelasan dari Bapak Robi mungkin hanya sebagai penerang. Selebihnya, aku harus menemukan jawaban itu sendiri langsung darinya.
Sesampainya di rumah Bapak Robi, aku menjelaskan kedatanganku kesana. Perihal apa yang ingin kutanyakan padanya. Selangkah demi selangkah pencarianku semakin jelas, bayang-bayang kabur perlahan menjadi titik terang. Tali simpul yang mulanya terikat kuat, kini semakin terbuka. Bapak Robi menjawab setiap pertanyaan yang kusodorkan padanya, membuat rasa penasaranku semakin menggeliat ke dalam nurani terdalam. Mencari tahu setiap celah yang dia tahu. Aku bergumam sendiri, atas dasar apa orang itu berlaku seperti ini padaku, pada Ibuku. Penjelasan dari Bapak Robi mungkin hanya sebagai penerang. Selebihnya, aku harus menemukan jawaban itu sendiri langsung darinya.
Setelah menginap di rumah Pak Robi selama dua hari, aku
pamit dan meneruskan langkahku dengan keyakinan baru. Aku tak meminta apa-apa
kecuali kepastian di tanganku. Bertahun-tahun dan tanpa kabar, siapa yang
sanggup menjalani hidup seperti itu. Ada dan tiba-tiba menghilang, apakah itu
semacam keinginan hati ataukah mungkin ada penyebab lain yang membuatnya
menjadi seperti orang yang tak kukenal sebelumnya.
Aku sudah tidak tahan ingin segera menemui orang itu.
Menatap dalam matanya, mendengar setiap perkataannya. Dan benar, pada hari
keempat pencarianku, aku bertemu dengannya, bertatap muka dan terasa canggung
berada di dekatnya. Kulihat sekeliling rumahnya, keadaannya sekarang tidak jauh
lebih baik seperti dugaanku. Tak sengaja kumelihat wanita berdiri di depan
pintu yang separo tertutup, mungkin ia sedang mengintip dan menguping
percakapanku. Aku terpaku dan kepala ini sudah menyimpulkan hal yang
tidak-tidak. Aku berkeringat, pertarungan batin mulai menusuk kepalaku, tapi
kucoba tuk menahannya.
Kujernihkan pikiranku, mungkin itu hanya perasaanku saja.
Kubuang dulu pikiran yang mulai melayang jauh. Kutunggu hingga ia berkata dan
menggeser tempat duduknya menjadi lebih dekat seinci denganku,
“Maafkan Bapak……..
“maaf baru mengatakannya sekarang……..”.
Penjelasan itu serentak membangunkanku, Suasana malam itu
begitu membisu. Ingin kuberanjak pergi, tapi ku tak berdaya. Aku tak kuat
menahan amarah yang tak dapat kubendung lagi. Ingin ku menghujat setiap
perkataannya, tubuhku hanya diam membeku, tak berani mengungkapkannya. Ucapan
itu kutelan dalam-dalam dan aku sudah cukup tahu. Tak ingin kuberlama-lama lagi
dengan orang asing yang tak punya tanggung jawab. Kini kumengerti, bahwa
matanya telah dibutakan oleh keindahan semu. Itu sudah menjadi pilihannya, dan
aku tak mungkin merubahnya. Rasa rindu itupun sirna, berganti dengan goresan
luka yang menancap perih keseluruh tubuhku.
Kenyataan pahit menggiringku untuk pulang kerumah. Aku sudah
muak dengan pencarian ini. Tak perlu mencari lagi, kuhentikan langkahku disini.
Sudah kutemukan kepastian itu. Aku hanya ingin berada dipelukan ibu, hangat dan
tak tergantikan oleh apapun. Kutemui Ibu dan menangis sejadi-jadinya, tak kuat
ku menahannya seorang diri. Mungkin itulah yang selama ini Ibuku rasakan.
Mencari atau tidak kenyataannya tetap sama saja. Namun paling tidak, aku sadar
dan tak akan menggantungkan hidup padanya lagi. Aku dan Ibuku mampu berdiri
tanpa keberadaannya.
Kehidupan harusnya tak monoton. Dari sini aku belajar arti
hidup. Perjalanan seribu batu bermula dari satu langkah yang kuambil. Tak
selamanya jalan yang ditempuh itu mulus tanpa bebatuan, setidaknya dibutuhkan
jalanan yang berliku untuk mencapai jalan yang mulus. Memori ini akan selalu
terekam, meskipun memori pahit sekalipun. Pasti ada kebencian itu, meskipun ia
pernah mengisi hidupku dan menjadi sosok yang kusegani. Kusimpan kebencian itu,
terkunci dalam ruang tak bersekat, agar hidupku tak memendam kebencian padanya.
Terjawab sudah, kepastian dari sosok yang setiap kecil
kupanggil-panggil dalam tidurku. Kutunggu hujan reda sambil duduk di depan
beranda menantikan kepulangannya. Raut wajahnya yang keras dan selalu kujadikan
kiblat dalam hidupku. Dedikasi yang ia berikan dulu, kini hanyalah sebuah
kenangan. Tak dapat lagi kumelihatnya bahkan memikirkannya pun kepalaku terasa
enggan. Kehidupan yang banyak menwarkan berbagai pilihan, mampu menggoyahkan
hatinya.
Hidup adalah pilihan. Tak bisa semuanya diambil, ada baik
ada buruk. Ada senang ada derita. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, maka
pintu lain akan dibukakan. Dan aku percaya itu.

Komentar
Posting Komentar